Pemerintah antisipasi ledakan karhutla Agustus-September

Pemerintah antisipasi ledakan karhutla Agustus-September

Jakarta (ANTARA) – Menteri Dunia Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengatakan pemerintah telah mengantisipasi potensi ledakan kebakaran hutan dan lahan yang biasa terjadi di dalam Agustus sampai September.

“Kita sudah mempelajari baik perilaku iklim maupun perilaku hotspot dan selalu waktu-waktu ledakan kebakaran hutan dengan rata-rata Agustus pekan kedua, ke-3 sampai September pekan pertama, ” kata Siti seusai Rapat Terbatas dengan Presiden di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa.

Siti mengatakan berdasarkan pantauan di Sumatera bagian utara yakni Riau serta Aceh serta sebagian Sumatera Melahirkan, terdapat dua fase krisis.

Fase pertama terjadi bulan Maret-April, sedangkan fase kedua Juni-Juli dan seterusnya hingga puncaknya Agustus-September.

Mengaji juga: Doni Monardo: Asap akibat karhutla bisa tingkatkan risiko COVID-19

Membaca juga: Presiden Jokowi perintahkan pencegahan karhutla manfaatkan teknologi

Yang dapat dilakukan dengan kondisi ini, kata Siti, adalah melakukan rekayasa hujan melalui teknologi modifikasi cuaca atas analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika dan dilaksanakan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi beserta didukung pesawat TNI Angkatan Udara.

“Itu bisa dilakukan dan kita sudah melewati fase krisis pertama di Riau, ” ujar Siti.

Tempat mengatakan fase pertama sangat penting karena terjadi bersamaan dengan adanya pandemi COVID-19 dan Idul Fitri.

Dia menyampaikan lembaga-lembaga terkait melakukan modifikasi cuaca di beberapa tempat seperti di Sumatera yang sudah dilakukan pada 13-31 Mei 2020, sehingga tidak tersedia asap karhutla pada Lebaran kemarin.

“Jadi ada korelasi antara modifikasi hujan, jadi awannya direkayasa diinduksi sehingga punya banyak uap air sehingga jatuh oleh karena itu hujan. Dan itu bisa besar, akhirnya dia membasahi gambut, selalu kemudian memberikan air untuk embung-embung, sehingga tidak ada asap, ” katanya.

Modifikasi iklim juga akan kembali dilakukan dalam Kalimantan. Berdasarkan analisa BMKG, hotspot di Kalimantan akan kencang era masuk musim kemarau bulan Juli dan puncaknya pada Agustus akhir hingga awal September.

“Mudah-mudahan bisa menjadi solusi, sebab pada kita memadamkan terus, dengan ini secara sistematis kita persiapkan, ” katanya.

Selain itu Pemerintah pusat juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam melindungi kawasan hutan serta memperkuat pola pemantauan oleh Polri. *

Baca serupa: Presiden minta penegakan hukum karhutla tanpa kompromi

Baca juga: Anggota Polda Sumsel ditempatkan di daerah hati duka karhutla

Pewarta: Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020