Mahfud: Normal baru bukan semata penghampiran ekonomi

Mahfud: Normal baru bukan semata penghampiran ekonomi

Jakarta (ANTARA) semrawut Menteri Koordinator Bidang Politik Asas dan Keamanan Mahfud MD menguatkan bahwa penerapan era normal pertama bukan semata dilakukan dengan penghampiran ekonomi, tetapi tetap mendahulukan pendekatan kesehatan.

“Tujuan negara tersebut membangun kesejahteraan. Kesejahteraan itu indikatornya dalam pembangunan manusia kan tersedia tiga, ” katanya, di Jakarta, Sabtu.

Indikator perdana, katanya, adalah kesehatan yang elok. Kedua, ekonominya baik, kemudian ketiga adalah pendidikan yang baik.

Hal tersebut disampaikannya era seminar virtual Forum Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang dihadiri oleh para rektor PTKIN dari berbagai wilayah di Indonesia dengan tema  “Isu-isu Nasional di Rra COVID-19”.

Sebab sebab itu, kata dia, berbicara era normal baru tidak kata soal pendekatan ekonomi semata, namun yang didahulukan adalah bagaimana protokol kesehatan menurut standar WHO  terlaksana.

“Jadi, misalnya pada sekolah Bapak, itu akan diatur. Nanti harus pakai masker, dengan menyediakan masker siapa, tempat basuh tangan ada di sudut mana saja? Itu akan diatur seluruh. Kemudian jarak, tempat duduk kuliah dan sebagainya, nanti pasti mau diatur semua. Sehingga kita tak pertimbangan ekonomi semata-mata, ” prawacana Mahfud, mencontohkan.

Menimpa perangkat hukum untuk penerapan kesibukan normal baru, kata dia, perdana saja keluar sekitar seminggu morat-marit Peraturan Menteri Kesehatan yang mengatur standar protokol di berbagai sektor.

“Pertama, dulu Susunan Menteri Kesehatan tentang PSBB. Dengan baru saja keluar seminggu dengan lalu itu Peraturan Menteri Kesehatan tubuh tentang standar protokol di bermacam-macam sektor. Kalau di industri tersebut standar kesehatan, kalau di jawatan pemerintah begini, kalau di mal begini, kalau di warung itu, kalau di pabrik ini. Telah dibuat semua standarnya, ” katanya.

Menyuarakan juga: Mahfud MD: “new normal” masih wacana

Selain itu, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu, pemerintah saat ini juga sudah mampu mengukur tingkat penularan virus corona dalam setiap daerah menggunakan pendekatan keilmuan, yakni Ro dan Rt.

Baca pula: Mahfud MD jelaskan alasan mal dan bandara tetap boleh buka

Ro merupakan indeks rata-rata orang dengan akan ditularkan oleh satu karakter yang terinfeksi virus, dengan gambaran WHO Ro global saat itu antara 1, 4 sampai 2, 5.

Baca juga: Anggota DPR: Menkopolhukam bangun kesadaran jalani kehidupan wajar

Sementara Rt merupakan indeks awal transmisi virus corona sebelum pemerintah melangsungkan berbagai langkah intervensi untuk menekan penyebaran.

“Kita telah bisa mengukur semua. Satu karakter menulari dua, tiga, itu sudah bisa diukur ‘scientific’-nya. Itu tersedia istilah Rt ada istilah Ro. Kita setiap minggu akan meng- update . Sudah kita ukur semua, ” katanya.

Seminar virtual tersebut diikuti jajaran rektor, antara lain Rektor UIN Banten, UIN Palembang, UIN Bandung, UIN Banjarmasin, UIN Lampung, IAIN Surakarta, UIN Makassar, IAIN Papua, UIN Padangsidempuan, dan IAIN Jember.

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © JARANG 2020