Institusi Eijkman: Pengembangan vaksin sekali suntik untuk seumur hidup

Institusi Eijkman: Pengembangan vaksin sekali suntik untuk seumur hidup

di Amerika menggelontorkan banyak sekali persediaan untuk perusahaan vaksin

Jakarta (ANTARA) – Kepala Lembaga Ilmu makhluk hidup Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengucapkan terkait  pengembangan vaksin di Indonesia, idealnya vaksin harus memenuhi kurang persyaratan, antara lain dari ujung imunitasnya kalau bisa sekali suntik dan bertahan seumur hidup.

“Sebagai gambaran umum bagaimana status yang harus kita hadapi bergandengan terkait dengan pengembangan vaksin dalam Indonesia, antara lain dari ujung imunitasnya kalau bisa sekali menyemprot, ” kata Amin dalam Webinar bertema Ilmuwan Merespons Pandemi, Jakarta, Sabtu.

Kemudian, selain diharapkan bisa sekali suntik, vaksin tersebut juga diharapkan bisa berdiam seumur hidup dan bisa menetap antibodinya.

“Kemudian juga imunitas yang dibentuk juga mencakup humoral dan seluler, kalau bisa. Dan juga ini efektif buat semua umur. Ini kita harapkan dari bayi sampai orang primitif, idealnya begitu. Tapi tidak tetap bisa berhasil, ” kata tempat.

Kemudian, vaksin itu juga diharapkan sedapat mungkin disuntikkan hanya satu kali saja.

“Enggak perlu ada booster besar kali, tiga kali dan sebagainya, ” katanya.

Baca juga: Lembaga Eijkman: Pengembangan vaksin COVID-19 berjalan sebati jadwal

Baca juga: Menristek: Eijkman dan Bio Farma intensif upayakan pengerjaan vaksin

Kemudian, lantaran sudut imunologi juga, kata Mengabulkan, sedapat mungkin tidak menyebabkan auto-imunity atau reaksi hipersensitivitas. Kemudian, persyaratan berikutnya dalam pengembangan vaksin adalah harus aman, efektif dan terjangkau.

“Pertimbangan lainnya, pertama untuk negara-negara berkembang seperti Nusantara, tentu harga menjadi pertimbangan utama. Kalau kita bandingkan misalkan berita-berita di koran, bagaimana pemerintah dalam Amerika menggelontorkan banyak sekali derma untuk perusahaan vaksin mereka. Tapi itu tidak terjadi di Indonesia, ” ujarnya.

Lalu, di tengah pandemi yang sampai saat ini belum berakhir, kecepatan produksi juga harus lebih lekas dan sedapat mungkin tidak terlalu kompleks.

Berikutnya, yang terpenting dalam tahapan pengembangan vaksin adalah selain perlunya persetujuan lekas dari pemerintah, masyarakat juga diharapkan bisa menerima kehadiran vaksin tersebut.

“Salah satu agak-agak yang akan menjadi pertanyaan merupakan masalah halal dan sebagainya, ” katanya.

Baca juga: Peneliti: Desain vaksin LIPI berbeda dengan Eijkman

Baca selalu: Lembaga Eijkman perkirakan bibit vaksin Merah Putih selesai awal 2021

Pewarta: Katriana
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020